Thursday, November 3, 2011

Dongeng Anak: Burung Itu Bersarang di Topi Kakek dan Burung Gagak dan Burung Merak

Dongeng Anak: Burung Itu Bersarang di Topi Kakek

Sekolah sedang libur panjang. Andi berlibur di rumah Kakek di desa. Sudah tiga hari dia di situ. Penuh suka cita dia membantu Kakek bekerja di kebun. Memakai topi pandan tuanya, Kakek giat berkebun. Kata Nenek, topi itu seharusnya dibuang saja. Habis sudah jelek sekali. Banyak bolong-bolong di sana-sini. “Tidak. Topi ini masih enak dipakai. Aku sangat menyukainya,” kata Kakek menolak ucapan Nenek. Matahari beranjak tinggi. Sinarnya mulai terasa menyengat panas. Kakek berhenti mencangkul. Dia mendatangi pohon mangga di tepi kebun. Dilepasnya topi. Diletakkannya di satu cabang pohon itu. Kakek lalu duduk bersandar di batang pohon itu melepas lelah. Setelah lelahnya lenyap, dia kembali mencangkul. “Hei, berhentilah! Ayo, makan dulu!” Nenek memanggil dari rumah. Kakek dan Andi cepat datang. Keduanya lalu lahap menikmati hidangan. Seusai itu Kakek ingat akan topinya.

Dongeng Anak: Burung Itu Bersarang di Topi Kakek

Disuruhnya Andi mengambil topi itu. Andi melakukan. Tak lama dia telah kembali. “Kakek, Kakek, wah, topi Kakek telah penuh dengan rumput kering!” katanya. Bersama Andi, Kakek cepat mendatangi pohon mangga di mana dia meletakkan topi itu. Setibanya di sana, mereka menemukan seekor burung murai tengah membuat sarang di topi itu. “Sssst!” ucap Kakek. “Yuk, kita pergi dari sini! Biarkan saja burung itu bersarang di situ.” Beberapa hari kemudian Kakek, Nenek, dan Andi melihat topi itu. Di dalamnya sudah ada lima butir telur. “Hihihi!” Nenek tertawa. “Topi itu memang cocok untuk sarang burung!” “Ya, ya, Nenek benar!” timpal Andi. “Huh!” dengus Kakek. “Hihihi!” “Hahaha!” Nenek dan Andi terpingkal-pingkal. Kakek tersenyum kecut.

Dongeng Anak: Burung Gagak dan Burung Merak

Dulu, setelah dunia selesai diciptakan, burung gagak dan burung merak adalah dua sahabat yang rukun. Ketika itu warna bulu gagak tidak hitam seperti sekarang dan warna bulu merak tidaklah seindah kini. Meskipun kedua burung itu bersahabat, mereka memiliki tabiat yang sangat berbeda. Merak selalu kelihatan rapi, sedangkan Gagak tampak begitu jorok. Gagak amat jarang membersihkan tubuhnya dan makanannya pun apa saja. Merak rajin sekali membersihkan tubuhnya setiap hari dan hanya makan buah serta sayur yang segar-segar. Merak selalu menjaga kebersihan sarangnya, tetapi Gagak tak peduli dengan sarangnya yang penuh dengan sampah. Suatu hari, Gagak dan Merak bercakap-cakap di tepi sungai. “Sungguh membanggakan bila bulu yang kita miliki warnanya indah,” kata Merak. “Tidakkah kau bosan dengan warna bulumu yang hanya putih itu?” “Ya, sungguh membosankan,” sahut Gagak. “Bagaimana kalau kita mencari bahan pewarna? Mula-mula aku mengecat bulu-bulumu, kemudian kau mengecatku. Bagaimana?” Merak setuju. Setelah berhasil mengumpulkan bahan pewarna, mulailah Gagak mengecat bulu-bulu Merak.

Dongeng Anak: Burung Gagak dan Burung Merak

Merak yang selalu tampak rapi memberitahukan warna apa saja yang harus digunakan. Gagak mengecat Merak dengan warna-warna yang sangat indah. “Sekarang giliranku mewarnaimu,” kata Merak. Maka, mulailah ia mengecat Gagak. Gagak merasa perutnya lapar. Dan ketika melihat bangkai seekor tikus terapung di sungai, ia tidak mau berlama-lama. “Gunakan saja satu warna!” suruhnya. “Aku tak mau kehilangan makananku.” “Sabar, Teman,” timpal Merak. “Bukankah kau menginginkan warna bulumu indah?” “Aku tak peduli!” sahut Gagak. “Aku tak mau kelaparan! Warnai saja buluku dengan warna hitam!” Merak melakukannya. Setelah selesai, Gagak melesat terbang untuk menyantap bangkai tikus. Sejak saat itu, bulu burung merak berwarna indah dan bulu burung gagak berwarna hitam.

Saturday, October 29, 2011

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim dan Amin Yang Baik Hati

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim

Buli adalah seekor anjing. Ia tinggal di peternakan keluarga Doni. Tubuhnya kecil. Bulunya berwarna cokelat. Ayah Doni telah mengajarinya beberapa hal. Dia mengajarinya bagaimana mengambil suatu benda. Dia juga mengajarinya bagaimana membawa benda. “Ia anjing yang pandai. Ia dapat membawa sebutir telur dengan mulutnya tanpa pecah,” ucap ayah Doni bangga. Suatu hari Doni mendengar suara keras. Dia melihat ke luar jendela. Di depan sana tampak sebuah truk menuju peternakan. Rem truk itu blong dan Pak Sopir tak dapat menghentikannya. “Cepat buka pintu peternakan!” teriak Pak Sopir. Truk terus melaju. Dua pekerja peternakan cepat-cepat membuka pintu. Truk memasuki peternakan.

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim

Beruntung saat itu semua ternak berada di kandang. Namun, tiba-tiba seekor induk ayam dan anak-anaknya melintasi jalan yang akan dilalui truk. “Hush, hush!” seru ayah Doni menghalau ayam-ayam itu. Seorang pekerja melempar batu ke arah ayam-ayam itu. Induk ayam cepat membawa anakanaknya menyingkir dari jalan itu. Oh, ternyata tak semua anak ayam mengikuti induknya. Seekor anak ayam tertinggal di tengah jalan. Ia menciap-ciap dengan keras. Sementara itu truk terus melaju. Kalau tidak cepat menyingkir, anak ayam itu bisa terlindas truk.Doni, ayahnya, dan semua yang ada di peternakan itu hanya bisa terdiam melihatnya.

Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan anak ayam itu. Tiba-tiba, siuuut! Dengan gerakan sangat cepat, Buli melesat ke arah anak ayam itu. Cepat digigitnya anak itu, lalu, siuuut … Buli cepat menyingkir dari jalan itu. Anak ayam itu selamat. Truk terus melaju menuju bukit kecil di ujung jalan dan akhirnya berhenti karena tak kuat menanjak. “Kau anjing yang pandai!” ucap ayah Doni pada Buli amat bangga. “Kau juga pemberani!” “Guk, guk, guk!”

Dongeng Anak:Amin Yang Baik Hati

Amin berjalan-jalan tidak jauh dari rumahnya. Dia memerhatikan burung, bunga, dan pepohonan. Dia terus berjalan hingga masuk ke dalam hutan. Tidak berapa lama hari pun gelap. Amin bermaksud pulang. Dia mencari jalan menuju rumahnya. Namun, dia tidak dapat mengingat jalan pulang. Amin tersesat. Karena sangat letih, dia duduk di bawah sebuah pohon yang besar. “Barangkali, jika aku beristirahat sebentar, aku akan dapat mengingat jalan pulang,” pikirnya. Segera ia tertidur lelap. “Tolong! Tolong!” terdengar teriakan. Amin terbangun dan memerhatikan sekelilingnya. Siapa yang berteriak? Dia melihat seekor ular yang besar.

Dongeng Anak:Amin Yang Baik Hati

Ular itu bergerak perlahan menaiki pohon. Ia akan memangsa anak-anak burung yang berada di sarang di sebatang cabang yang tinggi pohon itu. Anak-anak burung itu masih sangat kecil dan belum bisa terbang. Mereka mengepak-ngepakkan sayap dan berteriak. Si ular jahat terus bergerak. Amin memerhatikan dengan cemas ketika ular itu membuka lebar mulutnya. Dia mengambil sebatang ranting, memanjat pohon, dan memukul si ular. Szzzz! Szzzz! Ular itu menyerang Amin dengan ganas sekali. Berkali-kali Amin memukulnya. Dan terjadilah perkelahian yang seru. Si ular sangat panjang dan kuat sedangkan Amin yang masih muda, kuat dan sangatlah berani. Ular itu kewalahan dan akhirnya melarikan diri. Anak-anak burung mencicit gembira. Amin telah menyelamatkan mereka. Amin telah menjadi pahlawan mereka! Karena amat letih, Amin berbaring di tanah dan kembali tertidur dengan lelapnya. Tiba-tiba angin bertiup sangat keras. Pohon-pohon bergoyang. Semua binatang ketakutan dan lari bersembunyi. “Awas, si burung raksasa! Ia telah kembali!” teriak mereka. “Bersembunyilah!

Ayo, segeralah bersembunyi!” Para binatang itu pun bersembunyi di sarang mereka sambil berjaga-jaga. Anak-anak burung berseru gembira menyambut kedatangan induknya. Ketika hampir mendarat, si burung raksasa tiba-tiba melihat Amin yang tertidur lelap di bawah pohon. “Manusia!” pekiknya. “Aku akan mencabik-cabiknya hingga hancur dengan cakarku yang tajam!” Anak-anaknya berteriak, “Ibu, jangan melukainya! Dia teman kami! Dia telah mengusir si ular jahat dan menyelamatkan hidup kami!”

Si burung raksasa memerhatikan Amin. Amin terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat. Ketika melihat si burung raksasa, dia amat kaget. Belum pernah Amin melihat burung seperti itu. Sayapnya yang lebar menutupi sebagian permukaan tanah tempat dia berbaring. Namun, dia tidak merasa takut. Amin pun menyapanya. Si burung raksasa mengangguk. “Kau lapar?” ia bertanya kepada Amin sambil menyodorkan buah-buahan yang ada dalam genggaman cakarnya. Amin mengangguk. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk menerima buah-buahan yang disodorkan si burung raksasa. “Kami juga lapar, Bu!” seru anak-anaknya tak sabar. Segera si burung raksasa memberi mereka makan. Amin mengucapkan terima kasih.

Karena masih mengantuk, Amin pun tidur kembali. Sepanjang malam si burung raksasa menjaganya. Ia membentangkan sayapnya lebarlebar untuk melindungi Amin dari dingin malam yang amat menusuk. Keesokan paginya, ketika Amin bangun dia menemukan dirinya ditutupi sayap yang sangat besar. Amin merasa ngeri. “Jangan takut. Aku menutupimu agar tidak kedinginan,” jelas si burung raksasa. “Karena kau telah menyelamatkan anak-anakku, kini aku akan melakukan apa pun yang kauminta.” Amin mengucapkan terima kasih. Amin lalu menceritakan kisahnya dan minta diantarkan pulang. “Baiklah. Tapi, makanlah dulu.” “Kami juga lapar, Bu,” teriak anak-anaknya. Selesai makan, si burung raksasa mengantarkan Amin pulang. Sebelum berangkat ia berpesan, “Berpeganglah kuat-kuat pada tubuhku! Jangan dilepas! Hari ini angin berembus sangat kencang.”

Amin lalu naik ke punggung si burung raksasa. Anak-anak burung berteriak mengucapkan selamat jalan dan meminta Amin datang kembali di lain hari. Si burung raksasa segera mengangkasa membawa Amin. Tidak berapa lama Amin melihat rumahnya. “Itu rumahku!” serunya sangat gembira. Perlahan-lahan si burung raksasa mendarat, menurunkan Amin. Sebelum pergi, sekali lagi ia mengucapkan terima kasih dan tidak akan melupakan kebaikan Amin.

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim dan Amin Yang Baik Hati

Wednesday, October 12, 2011

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio dan Buaya Sama Burung Penyanyi

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio

Pak Rio menatap buah semangkanya dengan sedih. Kemarin, buah itu sangat segar dan besar. Tapi kini? Oh, buah itu mengerut layu dan membusuk! Pak Rio duduk termangu memikirkan hal itu. Air matanya menetes. “Oh, berhentilah menangis! Air matamu membuat aku basah kuyup!” satu suara terdengar marah. Pak Rio melihat ke bawah. Dia menemukan seekor tikus kebun sedang memeras pakaiannya. “Oh, maaf,” seru Pak Rio. “Aku sangat sedih. Tadinya aku berharap tahun ini aku bisa menang di lomba buah semangka terbaik. Tapi… kejadian seperti tahun-tahun lalu terjadi lagi. Buah semangkaku yang besar dan cantik tiba-tiba saja membusuk sebelum aku mengikuti lomba itu. Pak Kuro, tetangga sebelah rumahku, pasti akan memenangkan lomba itu, seperti tahun-tahun lalu. Buah semangkanya tak pernah mengalami hal buruk seperti yang selalu aku alami.” “Aku tahu mengapa kau tidak pernah bisa memenangkan lomba itu,” kata si Tikus Kebun. “Suatu malam aku keluar dari liangku. Aku melihat Pak Kuro menusukkan sebatang kayu seperti jarum ke semangkamu. Itu sebabnya buah semangkamu membusuk.

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio

Tapi tak usah sedih. Aku akan membantumu. Aku punya teman yang bisa menolongmu. Apa kau masih punya buah semangka?” “Ada. Tapi kecil.” Pak Rio menunjukkan buah semangkanya yang hampir sebesar ketimun. “Kau pasti akan memenangkan lomba itu,” kata si Tikus kebun. Ia kemudian bergegas menuju gua di tengah hutan, menemui kawannya, si Pengatur Cuaca. Tikus Kebun menceritakan kesusahan yang dialami Pak Kuro. “Tenanglah,” kata si Pengatur Cuaca. “Itu mudah. Aku akan membuat matahari bersinar terik selama tiga hari sebelum lomba itu diadakan. Buah semangka Pak Rio akan tumbuh besar, melebihi buah semangka sebelumnya. Namun, buah semangka Pak Kuro akan menjadi sangat masak dan membusuk.” Si Tikus Kebun merasa senang. Dan seperti janji si Pengatur Cuaca, matahari pun bersinar lebih terik dari biasanya. Buah semangka Pak Rio tumbuh lebih besar dari buah-buah semangka sebelumnya. Pak Rio sangat senang. Sementara di kebun sebelah, terdengar suara marah-marah Pak Kuro sebab semangkanya membusuk. Saat lomba, olala, tentu saja buah semangka Pak Rio menjadi pemenang. Buah itu sangat besar. Belum pernah ada semangka sebesar itu selama ini. Semua orang sangat kagum. Sementara itu, Pak Kuro merasa malu sekali. Pak Rio mengucapkan terima kasih pada Tikus Kebun. Dia memintanya tinggal di kebunnya dan memberinya makan setiap hari.


Dongeng Anak: Buaya dan Burung Penyanyi

Buaya dan Burung Penyanyi bersahabat akrab. Hari ini mereka asyik bercakap. Burung Penyanyi bertengger di hidung Buaya. Namun, beberapa saat kemudian, Buaya merasa mengantuk. Ia mengusap dan membuka mulutnya lebar. Oh, Burung Penyanyi yang bertengger di hidung Buaya terpeleset masuk ke dalam mulut Buaya. Sayangnya, Buaya tidak tahu. Ia bingung mencari Burung Penyanyi yang kini tak ada lagi di hidungnya. “Aneh! Ke mana Burung Penyanyi?” gumam Buaya. “Ia pasti sedang mengajakku bercanda.” Buaya melihat ke belakang, ke ekornya. Namun, burung itu tidak ada. Buaya lalu mencari Burung Penyanyi di semak-semak. Ia memasukkan moncongnya ke semak-semak di tepi sungai. Namun, Burung Penyanyi tetap tidak ditemukannya. “Ke mana ia?” gumam Buaya kembali. Buaya akhirnya memejamkan mata untuk tidur. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar senandung merdu yang keluar dari dalam dirinya. “Oh!” serunya heran. Matanya terbuka lebar. “Selama hidup, baru kali ini aku dapat bernyanyi. Wow, aku akan mengajak Burung Penyanyi sahabatku untuk bernyanyi bersama. Pasti akan sangat menyenangkan!” Buaya kemudian asyik mendengarkan senandung yang keluar dari dalam dirinya. Setelah beberapa lama ia merasa lelah.
Ia lalu membuka mulutnya dan menguap lebar-lebar. Ketika akan menutup matanya, ia melihat satu makhluk bertengger di hidungnya. Makhluk itu kelihatan sangat marah. Ia si Burung Penyanyi. “Kau jahat!” omel burung itu. “Mengapa kau tidak memberi tahu kalau ingin membuka mulut? Aku terjatuh ke dalam mulutmu, tahu? Menyebalkan!” Buaya mengernyitkan dahi. “Jadi,” katanya, “senandung yang terdengar dari dalam diriku itu suara senandungmu? Bukan senandungku?” “Ya!” jawab Burung Penyanyi. Ekornya digoyang-goyangkan. “Kau kan tahu, kau tidak bisa bernyanyi sama sekali! Suaramu sangat sumbang! Tak enak didengar!” Buaya sangat sedih mendengar perkataan itu. Air matanya menetes. “Aku pikir senandung itu suaraku,” katanya pilu. “Kau tahu, aku ingin sekali bisa bernyanyi. Tadi kupikir aku sudah bisa menyanyi. Ternyata? Oh, betapa malangnya aku yang bersuara buruk!” Burung Penyanyi merasa iba. Ia segera mencari cara untuk menghibur sahabatnya itu. “Teman, bagaimana kalau kau membuat gelembung gelembung air dan aku bersenandung? Kita lakukan secara bersamaan. Suara yang terdengar pasti sangat enak didengar.” Buaya setuju. Ia lalu memasukkan moncongnya ke dalam air dan membuat gelembung-gelembung. Burung Penyanyi bernyanyi. Suara nyanyiannya sangat pas dengan suara gelembung-gelembung air yang dibuat Buaya. Buaya senang sekali. Sejak itu mereka berdua selalu melakukan hal itu setiap hari. Agar Burung Penyanyi tidak masuk lagi ke dalam mulutnya, Buaya selalu memberi tahu dulu sebelum membuka mulutnya. Wow, mereka rukun, ya!

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio dan Buaya Sama Burung Penyanyi

Friday, September 2, 2011

Dongeng Anak: Burung Kecil di Depan Jendela dan Cerita yang Tak Sampai Pada Raja

Dongeng Anak: Burung Kecil di Depan Jendela

Kulihat seekor burung kecil di depan jendela kamarku. Burung itu melompat-lompat penuh riang. Kudekati jendela untuk mengatakan ‘apa kabar?’ pada burung itu. Tapi, werrr! Burung itu terbang menjauh. Aku memerhatikan penuh kecewa.

Dongeng Anak: Burung Kecil di Depan Jendela

Dongeng Anak: Cerita yang Tak Sampai Pada Raja

Pagi baru saja muncul. Sinar mentari yang hangat menyinari bumi. Seekor anak itik berjalan tergesa-gesa di sebuah jalan setapak menuju pasar. Ia diperintah ibunya untuk berberlanja. Anak itik itu belum punya banyak pengalaman. Sebuah melinjo tiba-tiba jatuh dan menimpa kepalanya. “Aduh!” seru Anak Itik itu. “Langit runtuh, dan menimpa kepalaku!” Anak itik itu ketakutan. “Aku harus melaporkan hal ini kepada Raja!” Anak itik itu mempercepat langkahnya. Belum jauh ia bersua dengan seekor ayam betina yang hendak bertelur. “Bu Ayam, Bu Ayam!” kata Anak Itik. “Langit runtuh! Mari kita laporkan kepada Raja!” “Langit runtuh?!” tukas Ayam Betina. “Ya!” jawab Anak Itik. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku!” “Jika begitu, mari kita laporkan kepada Raja,” kata Ayam Betina. Anak Itik dan Ayam Betina melangkah beriringan. Anak Itik di depan. Ayam Betina di belakang. Keduanya bertemu dengan seekor itik betina. “Bu Itik, langit runtuh!” Ayam Betina memberi tahu. “Ya!” timpal Anak Itik. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! 

Dongeng Anak Cerita yang Tak Sampai Pada Raja

Kita harus cepat melaporkan hal ini kepada Raja!” “Aku ikut,” ucap Itik Betina. Anak Itik, Ayam Betina, dan Itik Betina melangkah bersama. Tak lama, mereka bertemu seekor ayam jantan yang tengah mengais tanah mencari makanan. “Pak Ayam, langit runtuh!” seru Itik Betina pada ayam itu. “Ya!” kata Ayam Betina. “Benar sekali, Pak Ayam!” Anak Itik menambahkan. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! Kita harus cepat melaporkannya kepada Raja!” “Aku ikut,” kata Ayam Jantan. Anak Itik, Ayam Betina, Itik Betina, dan Ayam Jantan berjalan beriringan. Belum terlalu jauh keempatnya bersua dengan seekor itik jantan. “Langit runtuh, Pak Itik!” Ayam Jantan memberi tahu. “Betul,” kata Itik Betina. “Bu Ayam yang mengatakan padaku.” “Ya,” sahut Bu Ayam. “Aku diberi tahu anak itik ini. Langit runtuh dan menimpa kepalanya!” “Begitulah, Pak Itik,” Anak Itik menimpali. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! Saat ini kami tengah menuju istana untuk melaporkan kejadian ini kepada Raja. Kau mau ikut?” “Tentu,” sahut Itik Jantan. “Langit runtuh. Dunia pasti akan kiamat. Kabar ini h a r u s secepatnya sampai pada Raja!” Keenamnya segera melangkah beriringan. Mereka bertemu dengan seekor angsa jantan. “Langit runtuh, Pak Angsa!” seru Itik Jantan. “Kami sedang menuju istana untuk memberi laporan pada Raja!” “Langit runtuh!” tukas Angsa Jantan. “Kata siapa?” “Kata Ayam Jantan,” jawab Itik Jantan. Ayam Jantan lalu memberi tahu kalau ia pun diberi tahu Itik Betina. Itik Betina lalu menunjuk Ayam Betina, dan Ayam Betina menunjuk Anak Itik. “Sungguh!” kata Anak Itik. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! Kami kini tengah menuju istana. 

Raja harus segera tahu!” Angsa Jantan pun lalu ikut menuju istana. Binatang-binatang itu lalu bertemu seekor angsa betina. “Bu Angsa, langit runtuh!” Angsa Jantan memberi tahu. “Kami sedang dalam perjalanan menuju istana untuk melaporkan hal ini kepada Raja. Raja harus segera tahu!” “Aku ikut,” cetus Angsa Betina. Binatang-binatang itu melangkah beriringan. Tiba-tiba satu suara menyapa, “Selamat pagi, Kawan semua!” Binatang-binatang itu sangat terkejut. Mereka mendapati di depan mereka berdiri seekor serigala yang sangat buas. “Aku sangat lapar,” serigala itu berkata. “Sudah seminggu aku tidak memakan daging segar. Kalian akan kumakan satu per satu.” Serigala itu menjulurkan lidahnya. “Jangan!” seru Angsa Betina. “Langit runtuh. Dunia akan kiamat! Kami sedang menuju istana untuk menyampaikan hal ini pada Raja!” “Aku yang akan menyampaikan,” kata Serigala. Lalu dimakannya Angsa Betina. Dimakannya Angsa Jantan, Itik Jantan, Ayam Jantan, Itik Betina, Ayam Betina, dan terakhir Anak Itik. “Binatang-binatang bodoh!” seru Serigala gembira. “Semua mengantarkan diri untuk jadi santapanku! Dasar bodoh! Hahaha! Langit tak pernah runtuh!” Serigala itu melangkah gontai. Ia sangat kenyang. Tak disadarinya bahaya yang sedang mengintainya. Seorang pemburu membidikkan senapannya ke arahnya. Dor! Serigala itu terkulai. Si Pemburu sangat senang. Kini tiada lagi yang membahayakan ternak penduduk. Serigala jahat itu telah mati. Begitulah. Akhirnya, cerita langit runtuh tak pernah sampai pada Raja. D a n , langit memang tidak pernah runtuh.

Monday, July 4, 2011

Dongeng Anak: Dido dan Si Ayam Jago dan Dokter Nyitnyit

Dongeng Anak: Dido dan Si Ayam Jago

Dido, si kalkun, adalah raja di peternakan itu. Bila ada binatang lain mendekatinya, ia akan marah sekali. Dengan sayap dikembangkan lebar-lebar, jengger dan ekor ditinggikan, ia menakuti binatangbinatang itu. Kalau sudah melihat Dido begitu, binatang-binatang itu cepat menjauhinya. Mereka takut terkena hajarannya. Suatu hari, pemilik peternakan membeli seekor ayam jago. Tubuh ayam itu kecil, tapi tampak kekar dan kuat. Melihat keberadaannya di peternakan itu, Dido terlihat tak suka. Saat ayam jago itu tengah mengais-ngais tanah, penuh marah ia mendatanginya. Sayapnya dikembangkan lebar-lebar. Jengger dan ekornya dinaikkan. Si ayam jago tak takut. Penuh waspada ia terus mengais tanah. Tiba-tiba Dido menerjangnya sekuat tenaga. Dengan gesit ayam jago itu menghindar. Terjangan Dido luput. 

Dongeng Anak: Dido dan Si Ayam Jago

Ia lalu kembali menerjang, lalu sekali lagi menerjang. Akan tetapi, kembali dan kembali si ayam jago bisa menghindar. Akhirnya ayam jago itu kesal. Ketika Dido kembali menerjangnya, ayam jago itu tak menghindar. Ia balas menerjang. Buk! Ayam jago itu menghantam keras kepala Dido. Dido terjungkal. Lama ia diam tak bergerak. Lalu dengan terhuyunghuyung ia bangkit. “Ku-ku-ru-yuk!” Si ayam jago berkokok nyaring. Melihat itu Dido ketakutan. Cepat ia pergi menjauhi ayam itu. Ayam jago kemudian menjadi raja baru di peternakan itu. Bila ia berkokok, seketika Dido gemetar takut. Ia tak berani dekat-dekat dengannya. Ia juga tak berani sok lagi pada binatang-binatang lain di peternakan itu.


Dongeng Anak: Dokter Nyitnyit

Nyitnyit Kera adalah dokter gigi. Ia membuka klinik di Hutan Wauwau. Seluruh binatang penghuni hutan itu menyambut gembira. Kini mereka tak perlu lagi ke hutan lain untuk memeriksakan persoalan gigi mereka. Nyitnyit Kera amat periang. Ia menerima pasien-pasiennya dengan ramah. Ia mencabut gigi tanpa pasien merasa sakit. Dinasihatinya para pasien untuk menjaga kesehatan gigi. “Gosoklah gigi dengan teratur,” katanya pada para pasien. “Jangan banyak makan makanan manis.” Dua hari yang lalu Wangwang Beruang sakit gigi. Ia datang ke Dokter Nyitnyit. Ucap Dokter Nyitnyit usai memeriksanya, “Satu gigi Saudara busuk. Harus dicabut. Setelah itu Saudara tak akan sakit gigi lagi.” Wangwang Beruang ngeri mendengar itu. Ia gemetar, membayangkan betapa sakitnya giginya dicabut. Berkat nasihat teman yang mengantarnya, Wangwang akhirnya mau giginya dicabut. Dokter Nyitnyit pun beraksi. Gusi tempat gigi yang akan dicabut disuntik kebal. Katanya pada Wangwang, “Saudara tidak akan merasa sakit sedikit pun saat gigi Saudara dicabut.” Dokter Nyitnyit mencabut gigi Wangwang Beruang. Wangwang Beruang tak merasa sakit. 

Dongeng Anak: Dokter Nyitnyit

Namun, ia menjerit keras sekali dan baru berhenti saat Nyitnyit Kera menunjukkan gigi yang telah dicabutnya padanya. “Berapa bayarnya, Pak?” tanya Wangwang Beruang. “Empat puluh lima ribu.” “Bukan lima belas ribu, Pak?” “Biasanya memang segitu. Tetapi untuk Saudara lain,” ucap Dokter Nyitnyit. “Saudara tahu? Tadi, saat Saudara menjerit, dua pasien saya kabur ketakutan. Jadi kelebihan tiga puluh ribu untuk mengganti kerugian saya, karena kehilangan kedua pasien itu.” Mendengar penjelasan itu, para pasien yang tengah menunggu giliran seketika tertawa terpingkal-pingkal. Wangwang Beruang tersenyum kecut. Dokter Nyitnyit kemudian memintanya membayar lima belas ribu saja seperti biasa. Suatu hari, Pak Macan datang ke klinik Nyitnyit Kera. Dokter Nyitnyit lalu memeriksa giginya. Serunya, “Ada lubang… lubang… lubang… di gigi Bapak!” “Mengapa Bapak mengucapkan lubang berulang-ulang?” tanya Pak Macan. “Lho, hanya sekali, kok,” sahut Dokter Nyitnyit. “Apa yang Bapak dengar berulang-ulang itu adalah suara gema yang disebabkan oleh adanya lubang di gigi Bapak.” Begitulah Dokter Nyitnyit. Ia selalu memperlakukan para pasien dengan penuh ramah dan penuh canda. Semua suka padanya. Kian hari pasiennya kian banyak. Tak hanya penghuni Hutan Wauwau yang memeriksakan persoalan gigi mereka padanya, tetapi juga penghuni hutan-hutan lain.

Dongeng Anak: Dido dan Si Ayam Jago dan Dokter Nyitnyit