Friday, December 23, 2011

Dongeng Anak: Belajar Mendengkur

Dongeng Anak: Belajar Mendengkur

Pus dan Kus adalah dua anak kucing milik Bu Mirna. Suatu pagi, dengan mata masih mengantuk Pus berkata pada Kus, “Apakah kau ingat dengkuran merdu ibu kita?” “Ya,” sahut Kus sambil memalingkan kepalanya pada Pus. “Dengkuran yang terdengar saat Ibu senang pada kita.” “Atau saat Ibu kasihan pada kita,” Pus ikut menimpali. “Atau saat Ibu ingin kita segera tidur,” Kus menambahkan lagi. “Seandainya aku dapat mendengkur!” ujar Pus. “Pernah kucoba, tapi kok susah, ya? Coba, kucoba lagi.” Namun, cuma suara tercekik yang keluar, seperti ada tulang ikan yang tersumbat di kerongkongan Pus. “Sekarang aku yang mencoba,” kata Kus. “Sudah benar?” tanya Kus setelah mencoba mendengkur. “Sama sekali belum,” timpal Pus. “Dengkuranmu sangat buruk. Suaramu seperti kucing sedang sakit. Tak seperti dengkuran Ibu yang selalu merdu dan penuh kedamaian.” Tiba-tiba seekor lebah besar dan berbulu lembut masuk ke dapur melalui jendela. 
Ia mendengung naik dan turun di depan kaca. Tampaknya, ia sedang berusaha mencari jalan keluar. “Dengar!” seru Kus. “Lebah itu sedang mendengkur! Ayo, kita tanya padanya bagaimana ia melakukannya!” Kus melompat ke sebuah kursi dan kemudian ke meja. Ia mengapai-gapaikan kaki depannya. “Hei, Lebah, dapatkah kau memberitahu kami cara mendengkur?” tanya Kus. “Mendengkur?” tanya si Lebah heran sambil berputar. “Aku tidak mendengkur! Aku berdengung seperti yang dilakukan semua lebah. Aku berdengung karena sayapku. Kau tak mempunyai sayap, berarti kau tidak dapat berdengung.” Tak lama kemudian, si Lebah menemukan bagian dari jendela yang terbuka. Ia pun keluar menuju matahari pagi yang bersinar lembut. “Jangan kauhiraukan,” hibur Pus. “Ia telah pergi. Tunggu! Coba kau dengar! Aku seperti mendengar suara dengkuran yang lain lagi.” Kus memasang telinganya. Ya, ia pun mendengar suara lembut dan indah. Ternyata, suara itu berasal dari ketel di atas kompor. Kus menghampiri ketel itu dan memandanginya. 

Ia lalu bertanya dengan sopan, “Ketel, dapatkah kau memberitahu kami cara mendengkur?” “Aku akan memberitahu kalian jika aku dapat,” jawab si Ketel dengan ramah. “Tapi, aku tidak dapat mendengkur. Yang kau dengar tadi adalah suara nyanyianku. Aku selalu menyanyi apabila air di dalam tubuhku telah mendidih. Bu Mirna akan mengangkatku dari atas kompor sebelum aku bergetar.” Bu Mirna pun masuk. Setelah yakin air dalam ketel telah mendidih, dia mengangkat ketel itu dari atas kompor. Dia lalu pergi ke ruang tamu mengambil mesin mengisap debu. Dia hendak membersihkan karpet. Mesin pengisap debu itu mengeluarkan suara desingan keras sewaktu mengisap debu. Kedua anak kucing itu menutup telinga mereka. Sesuatu sedang mendengkur dengan keras sekali. Lantai tampak bergetar. Pus dan Kus merayap ke bawah meja, memerhatikan mesin pengisap debu yang maju mundur di atas karpet dan mendengkur dengan sangat keras. Bu Mirna mematikan mesin pengisap debu itu sebentar. Suara berisik pun berhenti. Anak-anak kucing dengan tidak sabar bertanya, “Maukah kau mengajari kami cara mendengkur? Kami tidak perlu mendengkur terlalu keras sepertimu. Perlahan saja dan lembut.” “Aku tidak dapat mengajari kalian cara mendengkur,” raung si Mesin Pengisap Debu ketika Bu Mirna menyalakannya kembali. “Kalian harus memiliki kantung debu di dalam tubuh kalian dan juga mesin. Apa kalian mau memakan debu sepertiku? Kadang-kadang aku memakan juga peniti, batang korek api, rambut, dan batu-batu kecil. 

Apa kalian mau?” “Ah, tidak. Kami lebih suka memakan susu dan ikan. Terima kasih,” jawab kedua anak kucing, lalu mereka merangkak kembali ke dalam keranjang tidur mereka. “Sudahlah! Kita tak usah pusing memikirkan cara mendengkur,” kata Pus. “Tampaknya sangat sulit. Ayo, kita main saja! Aku akan mencoba menangkap ujung ekorku saja.” Pus lalu memutar-mutar tubuhnya. Ekornya pun ikut berputar sehingga ia tidak pernah dapat menangkapnya. Lucu sekali. Ketika berhenti berputar, ia merasa sangat pusing. Petang itu, ketika melihat Pus dan Kus, Bu Mirna meletakkan rajutannya di atas meja. Dia lalu membaringkan kedua anak kucing di pangkuannya dan mengusap-usap mereka dengan lembutnya. Ya, ia memang sangat menyayangi mereka. “Aku mendengar suara dengkuran,” ucap Pus. “Aku juga,” jawab Kus. “Begitu lembut. Dengkuran siapa, ya?” “Entahlah. Aku sudah mengantuk.” “Oh, kau yang mendengkur!” seru Kus gembira. “Bukan, itu kau!” tukas Pus. Mereka lalu mendengarkan suara dengkuran itu lagi. “Oh, itu suara dengkuran kita!” seru mereka gembira. Akhirnya, Pus dan Kus sangat bahagia karena dapat mendengkur seperti ibu mereka.

Dongeng Anak: Belajar Mendengkur

Tuesday, December 20, 2011

Dongeng Anak: Bangunlah, Pak Kus

Dongeng Anak: Bangunlah, Pak Kus

Matahari telah menampakkan diri. Bunga-bunga telah bermekaran dan burung-burung berkicau di sarangnya. Para binatang peliharaan pun telah terbangun. Mereka menggeliat, menguap, dan merasa lapar. Waktu terus berlalu. Para binatang peliharaan yang sedang kelaparan, mendengar burung-burung murai bernyanyi dan burung-burung merpati berkukur. Namun, mereka tidak juga mendengar suara derap sepatu Pak Kus yang sedang mereka nantikan. “Ku-ku-ru-yuk!” para Ayam Jantan berkokok. “Oh, tidak adakah yang mengeluarkan kami dari kandang ini dan memberi kami makan?” “Kut, kut, kut! Hai, apakah yang telah terjadi? Mengapa kita belum juga dikeluarkan dari kandang dan diberi makan?” tanya para Ayam Betina sambil mengepak-ngepakkan sayap mereka. 

Dongeng Anak: Bangunlah, Pak Kus

Mereka juga kelihatan kesal. “Moo, moo, moo!” Sapi menukas. “Pak Kus pasti datang dan memerah susuku! Aku mempunyai banyak susu!” “Meong, meong, meong!” ucap Kucing. “Aku ingin minum susu! Tempat susuku telah kering! Aku sudah sangat lapar!” “Aku juga ingin makan!” timpal Anjing. “Aku telah lama terbangun, tetapi belum juga diberi makan!” Kemudian, semua binatang peliharaan itu bersamasama berteriak dengan keras, “Bangunlah, Pak Kus! Keluarkan kami dan beri kami makan!” Namun, Pak Kus tidak mendengar. Tirai jendela kamarnya masih tertutup rapat. Dia masih tidur. “Tolonglah, bangunkan dia untuk kami!” kata para binatang pada matahari. “Akan kucoba,” jawab Matahari. “Jika aku dapat menemukan sebuah celah di antara tirai itu, aku akan membangunkannya.” Ia lalu segera mencari dan menemukannya. Ia mengirimkan sinarnya yang keemasan. Sinar itu menimpa wajah Pak Kus, tepat mengenai matanya.

Namun, Pak Kus tidak merasakan apa-apa. “Aku tak bisa membangunkannya. Tapi, aku menemukan sesuatu!” lapor Matahari pada mereka. “Aku melihat beker yang ada di sisi pembaringan Pak Kus berhenti! Beker itu tidak mengeluarkan bunyi. Barangkali mati tadi malam!” “Mati?” seru para binatang peliharaan. “Oh, dia pasti lupa memutarnya sebelum tidur!” “Ya, jam beker itu tidak berbunyi pada pukul enam seperti biasanya untuk membangunkan Pak Kus. Beker itu mati,” Matahari menambahkan. “Kita harus menemukan cara lain untuk membangunkannya,” para binatang peliharaan berkata, “atau kita semua tak akan memperoleh makanan hari ini.” “Aku akan mencoba untuk membangunkannya,” ucap Kucing. “Mudahmudahan aku dapat menemukan jalan untuk masuk ke kamarnya.” Ia segera memanjat dinding dan masuk melalui jendela yang terbuka. Ia mendarat perlahan di sisi Pak Kus dan mengetuk pelan beker itu dengan cakarnya. Pak Kus tersenyum dalam tidurnya. Ia lalu menggelitik hidung Pak Kus dengan kumisnya. Pak Kus bersin, tetapi kemudian melanjutkan tidurnya. Kucing lalu menggigit telinga Pak Kus dengan pelan. “Nyamuk-nyamuk nakal!” omel Pak Kus. Kemudian kucing itu menggigit telinga Pak Kus dengan lebih keras.

Pak Kus menyentilnya dengan jari telunjuknya. Dengan putus asa kucing itu menggigit keras-keras telinga Pak Kus hingga meninggalkan rasa sakit. Pak Kus terbangun dan duduk sambil memerhatikan si kucing. Kemudian dia melihat beker. Beker itu tidak berbunyi. Dia pun segera melompat dari pembaringan dan melihat ke arloji yang ada di atas meja. “Jam delapan! Oh!” teriak Pak Kus. “Aku kesiangan!” dia kembali berteriak. Segera dia berganti pakaian dan keluar. Para binatang peliharaan gembira mendengar suara derap sepatunya. Dia segera membuka pintu kandang dan memberi mereka makan. Dia pun tak lupa memerah susu. Setelah semuanya beres, Pak Kus duduk di ruang makan menikmati sarapannya. Dia makan dengan sangat lahap seperti para binatang peliharaannya. Ketika melihat kucingnya, dia memberi makanan tambahan berupa semangkuk besar bubur karena telah membangunkannya. Ya, Pak Kus telah lupa menyetel jam bekernya kemarin!

Dongeng Anak: Bangunlah, Pak Kus

Monday, December 19, 2011

Dongeng Anak: Biarkan Ia Bebas dan Bus Kecil Yang Takut Gelap

Dongeng Anak: Biarkan Ia Bebas

Aku punya seekor kutilang. Aku membelinya dari Kang Adun. Mama sangat tidak suka karena aku suka lalai pada peliharaanku, seperti yang kulakukan seminggu yang lalu. Aku minta dibelikan ikan koi. Mama lalu membelikannya. Mulanya aku merawatnya dengan baik. Tapi, kemudian aku melupakan peliharaanku. Aku tak memberinya makan dan juga tak mengganti-ganti airnya. Akibatnya, koi itu mati. Mama kesal melihatnya. “Awas kalau tidak merawatnya dengan baik,” ancam Mama, sewaktu aku merengek minta dibelikan seekor burung kutilang. “Aku janji akan merawatnya dengan baik, Ma,” ucapku. Mama pun mengizinkan. Aku lalu membeli seekor kutilang pada Kang Adun, si pedagang burung. Aku senang sekali dengan kutilangku. 
Setiap pagi sebelum ke sekolah, aku memberinya makan. Kuganti air minumnya. Namun, ternyata kutilang itu tidak lama kumiliki. Kemarin, setelah memberi makan dan minum kutilang itu, Aku lupa menutup pintu sangkarnya. Ketika aku kembali dari sekolah, kutilangku sudah tak ada. Pintu sangkarnya terbuka. Aku ingat apa yang telah aku lakukan pagi tadi. Aku lupa menutup pintu sangkar! Aku menyesali keteledoranku. “Sudahlah,” hibur Mama. “Bukankah lebih baik kutilang itu hidup bebas? Ia bisa pergi ke mana saja, mencari makan sesukanya, dan bermain bersama teman-temannya. Tidak enak, lho, hidup dalam sangkar, meski diberi makan. Bayangkan kalau kamu dikurung di rumah, tidak boleh ke mana-mana, tidak boleh bermain dengan teman-temanmu!” Aku merenungkan kata-kata Mama. Bila aku dikurung di rumah, tak boleh ke mana-mana, tak boleh bermain dengan teman-teman, hiii, pasti tak enak sekali! Seperti dipenjara rasanya, meski diberi makan enak, meski diberi banyak mainan. Aku bergidik ngeri.

Dongeng Anak: Bus Kecil Yang Takut Gelap

Ada sebuah bus kecil berwarna merah. Ia tinggal di sebuah garasi bersama ayah dan ibunya. Setiap pagi ketiganya diisi bensin dan air. Kemudian mereka mengangkut orang, dari desa tempat tinggal mereka ke kota besar di tepi laut, pulang balik. Si Bus Kecil selalu melakukan perjalanan di siang hari. Pada malam hari ia tidak berani. Ia sangat takut gelap. Suatu hari ibunya berkata, “Dengarlah! Ibu akan menceritakan sebuah cerita.” Ibu Bus lalu mulai bercerita, “Dulu sekali, Gelap takut pada bus. Tapi, Ibu Gelap yang secantik bunga melati berkata pada anaknya, ‘Kau tidak usah takut. Ayolah keluar! Sekarang sudah saatnya kau keluar. Kalau kau bersembunyi terus, orang-orang tidak tahu bahwa saat mereka untuk tidur telah tiba. Bintang-bintang pun tidak tahu bahwa sudah saatnya mereka keluar untuk memancarkan sinar. Ayolah keluar! Tak usah takut.’ Maka, Gelap yang tengah bersembunyi di balik matahari keluar dan merangkak turun ke jalan dan rumah-rumah. 

Dongeng Anak: Bus Kecil Yang Takut Gelap

Bus-bus tampak sedang bergerak ke sana ke mari. Gelap memberanikan diri merangkak lebih jauh. Tak lama kemudian, lampu-lampu di sepanjang jalan dinyalakan. Para sopir bis juga menyalakan lampu bus. “Gelap terus merayap. Ia tak menyadari ada sebuah bus bergerak menembusnya dan membunyikan klakson. Menyenangkan sekali! Gelap pun tersenyum gembira. Setelah itu banyak bus menembus Gelap dengan lampulampu mereka yang menyala. Orang-orang di dalam bus-bus pun tampak sangat menikmati suasana yang sangat indah itu. “Ketika bulan bersinar, Gelap bermain petak umpet di antara rumahrumah. Ketika pagi tiba, matahari bersinar dan mengantarkan Gelap pulang ke ibunya. Kini, Gelap tak takut lagi pada bus.” Ketika Ibu Bis selesai bercerita, si Bus Kecil berkata, “Saya siap untuk pergi keluar sekarang, Bu.” Ketika si Pengendara Bus Kecil datang dan menyalakan mesin serta lampu Bus Kecil, orang-orang mulai naik dan duduk. Setelah bus penuh, si Bus Kecil pun berangkat. Ia menembus gelap, menuruni bukit, menuju ke kota besar di tepi laut.

Dongeng Anak: Biarkan Ia Bebas dan Bus Kecil Yang Takut Gelap

Thursday, December 15, 2011

Dongeng Anak: Balasan Bagi Yang Rakus

Dongeng Anak: Balasan Bagi Yang Rakus

Suatu sore, seekor ayam jago berjalan mendatangi seekor gajah. Setelah dekat ia berkokok, “Ku-ku-ru-yuk!” Gajah merasa heran sekali. “Ada apa, Bung Ayam?” tanya Gajah. Ayam Jago tak menyahut. Dikepak-kepakkan sayapnya. Kakinya dikaiskaiskan ke tanah. Ia mematuki butiran beras. Lalu, kembali ia berkokok, “Kuku- ru-yuk!” Lama Gajah memerhatikan Ayam Jago. Tanyanya, “Bung Ayam, katakan padaku, siapa menurutmu yang makannya lebih banyak? Kau, atau aku?” Ayam Jago berhenti mematuk-matuk. Ditatapnya Gajah dengan tajam. Lalu katanya, “Tentu saja aku!” Gajah bersuara nyaring. Belalainya yang besar dan panjang diangkatnya. 

Dongeng Anak: Balasan Bagi Yang Rakus

Ayam Jago berkokok keras, “Ku-ku-ru-yuk! Aku tidak hanya makan lebih banyak darimu, hei, Pak Gajah, tapi juga aku makan lebih cepat!” Mereka lalu memutuskan untuk mengadakan pertandingan untuk menentukan siapa yang makannya paling banyak. Mereka mengundang semua binatang untuk datang ke tepi sungai. “Teman-teman, hari ini kita akan melihat siapa yang makannya lebih banyak. Ayam Jago atau Gajah?” Harimau berkata. Gajah dan Ayam Jago lalu mulai makan. Gajah makan sampai perutnya kenyang. “Aku mau berhenti makan. Jika tidak, perutku bisa meledak,” ucap Gajah setelah beberapa lama. Saat itu udara sore sangatlah panas. Gajah mengantuk. Segera ia terlelap. Ayam Jago terus saja makan. Dipatukinya butiran-butiran beras. “Ku-kuru- yuk!” ia berkokok. Para binatang yang menonton kesal melihatnya. “Jangan banyak lagak!” omel Ular. Ayam Jago tak memedulikan. Gelap hampir datang. Gajah bangun dari tidurnya. Ia melihat Ayam Jago yang masih makan. Binatang-binatang yang menonton memberitahunya kalau Ayam Jago belum juga berhenti makan sejak tadi. “Rakus sekali,” kata Gajah. Ayam Jago melihat ke arah Gajah. Ejeknya, “Apakah kau tidur nyenyak, Pak Gajah? Apakah kau tidak ingin meneruskan pertandingan? Ku-ku-ru-yuk! Kau tidak bakal menang! Kau lemah dan bodoh!” Gajah meneruskan makannya. Tak lama ia pun berhenti. “Oh, aku tak mampu untuk meneruskan makanku lagi!” keluhnya. “Perutku sakit sekali!” Ia memerhatikan Ayam Jago yang masih mematuki butiran beras. Ayam Jago sangat senang. “Aku menang! Akulah yang paling hebat!” serunya. Ia membentangkan sayapnya, kemudian melompat ke punggung Gajah. Penuh kemarahan Gajah menggoyangkan tubuhnya agar Ayam Jago turun. 

Ia lalu berlari masuk hutan. Ayam Jago mengepak-ngepakkan sayapnya lalu meneruskan makannya. Binatang-binatang yang menonton memerhatikan dengan heran Ayam Jago yang terus saja makan. Mereka merasa cemas. Cepat mereka menemui Gajah. “Bung Ayam,” menasihati Gajah, “kalau kau terus saja makan, kau akan sakit nanti. Berhentilah.” Namun, Ayam Jago terus saja mematuki butiran beras. “Ku-ku-ru-yuk!” Ayam Jago berkokok. Binatang-binatang yang menonton bubar. Baru saja mereka akan memasuki hutan, ketika tiba-tiba mereka mendengar suara aneh. Suara Ayam Jago! Binatang-binatang itu cepat mendatangi Ayam Jago kembali. Mereka melihat muka ayam itu memerah. Lidahnya kelu. Lehernya tercekik karena kebanyakan makan. “T-tol-tolong ak-akuuu!” seru Ayam Jago. Ia menggeloso roboh dan mati. “Itulah akibat terlalu rakus,” ucap Gajah pilu.

Friday, November 11, 2011

Dongeng Anak: Dua Putra Raja

Dongeng Anak: Dua Putra Raja

Raja Tua Kroda sangat bingung. Pasalnya, dia belum juga bisa memutuskan siapa yang bakal menggantikannya sebagai raja di Kerajaan Kroda. Pangeran Sulung, ataukah Pangeran Bungsu? Akhirnya Raja Tua Kroda mengambil jalan: dia akan menguji kedua putranya itu. Maka, suatu hari dia berkata pada Pangeran Sulung, “Anakku, aku akan menugaskanmu untuk melihat-lihat keadaan negeri kita. Berangkatlah besok. Ini sekantong uang emas sebagai bekalmu.” Pangeran Sulung pun berangkat keesokannya. Dia menaiki kuda kesayangannya. Saat melewati pinggir hutan, Pangeran Sulung melihat seekor rusa yang terjebak dalam sebuah perangkap. Pangeran Sulung merasa kasihan. Dibebaskannya rusa itu. 

Dongeng Anak: Dua Putra Raja

Seorang lelaki tua lalu muncul. “Anak muda,” ucapnya, “kau sungguh telah melakukan kesalahan besar dengan melepas rusa itu. Binatang itu punyaku. Telah berhari-hari aku memburunya. Kau telah membuatku rugi. Kau harus menggantinya. Jika tidak bersedia, terpaksa aku akan melaporkanmu kepada Raja.” Pangeran Sulung tak ingin persoalan itu dibawa ke hadapan Raja. Maka dia pun berkata, “Ini sekantong uang emas untuk mengganti kerugian itu.” Si Lelaki Tua mengambilnya, lalu pergi. Dengan lesu Pangeran Sulung meneruskan perjalanan. Belum juga jauh, seorang lelaki brewok tiba-tiba menghadangnya. “Berhentilah kau, Anak Muda. Akhirnya kau kutemukan juga,” katanya. “Cepat kembalikan kuda yang kau curi itu. Jika tidak, aku akan melaporkanmu kepada Raja.” Pangeran Sulung ketakutan. 

Maka diberikannyalah kudanya pada si Brewok. Si Brewok segera meninggalkan tempat itu. Pangeran Sulung amat bingung. Kini dia tak punya uang. Begitu pula dengan kuda tunggangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali saja. Raja Tua Kroda yang kemudian mendengar ceritanya tak berkomentar apa-apa. Raja Tua Kroda kemudian memanggil Pangeran Bungsu. Lalu katanya, “Anakku, kini aku menugaskanmu untuk melihat-lihat keadaan negeri kita. Berangkatlah besok. Dan ini, sekantong uang emas sebagai bekalmu.” Keesokannya, dengan menaiki kudanya, Pangeran Bungsu berangkat. Saat melewati pinggir hutan, matanya melihat seekor rusa yang kena perangkap. Pangeran Bungsu merasa kasihan. Dibebaskannya rusa itu. Seorang lelaki tua lalu muncul dan berkata, “Anak muda, kau telah melakukan kesalahan yang amat besar dengan melepas rusa itu. Rusa itu punyaku. Telah berhari hari aku memburunya. Kau telah membuatku rugi. Kau harus menggantinya. Jika tidak, terpaksa aku akan melaporkanmu kepada Raja.” “Hahaha!” Pangeran Bungsu tertawa. “Akhirnya ketahuan juga,” katanya. “Ternyata Bapaklah orang yang selama ini menangkapi rusa-rusa di hutan ini. Bapak telah melawan peraturan Raja, yang melarang berburu rusa di sini. Sekarang Bapak akan saya bawa ke depan Raja.” Lelaki tua itu ketakutan. 

Dia tidak ingin dibawa ke hadapan raja. Katanya, “Anak muda, ambillah kantong berisi uang emas ini. Setelah itu, bebaskanlah aku. Jangan kau menghadapkanku kepada Raja.” Pangeran Bungsu menerimanya. Lalu diteruskannya perjalanan. Belum begitu jauh, seorang lelaki brewok tiba-tiba menghadangnya. Seru orang itu, “Akhirnya kutemukan juga kau, pencuri kuda! Kembalikan kuda itu! Atau kau ingin aku melaporkanmu kepada Raja?” Pangeran Bungsu tak takut. Tersenyum dia berkata, “Rupanya Bapak pemilik kuda ini. Sudah lama saya mencari. Bukan untuk mengembalikan kuda ini, tetapi untuk melaporkan Bapak kepada Raja atas perlakuan kejam Bapak terhadap kuda ini. Kuda ini datang kepada saya dan menceritakan kekejaman Bapak padanya. Tenaganya diperas, diberi pekerjaan-pekerjaan yang berat, tetapi tak pernah diberi cukup makan. Tubuhnya yang kian kurus, lemah, serta tidak terurus tak diperhatikan. Bapak amat jahat. Ayo, ikut ke istana!” Si Brewok amat takut. Dengan tubuh gemetar dia berkata, “Anak muda, jangan bawa aku ke hadapan Raja. Ini sekantong uang emas untukmu.” Pangeran Bungsu mengambilnya. Lalu dia melanjutkan perjalanan. Setelah puas melihat-lihat keadaan negerinya, Pangeran Bungsu cepat kembali ke istana. Diceritakannya semua yang telah dialaminya pada ayahnya. Raja Tua Kroda tampak senang. Dia lalu mengatakan bahwa si Lelaki Tua dan si Brewok adalah orang-orang suruhannya. Setelah itu dia memutuskan: Pangeran Bungsu lah penggantinya. Dan keputusan itu memang tepat. Di bawah pemerintahan Pangeran Bungsu yang pintar dan cerdik, Kerajaan Kroda kemudian menjadi negeri yang besar, makmur, dan disegani.

Dongeng Anak: Dua Putra Raja