Friday, November 11, 2011

Dongeng Anak: Dua Putra Raja

Dongeng Anak: Dua Putra Raja

Raja Tua Kroda sangat bingung. Pasalnya, dia belum juga bisa memutuskan siapa yang bakal menggantikannya sebagai raja di Kerajaan Kroda. Pangeran Sulung, ataukah Pangeran Bungsu? Akhirnya Raja Tua Kroda mengambil jalan: dia akan menguji kedua putranya itu. Maka, suatu hari dia berkata pada Pangeran Sulung, “Anakku, aku akan menugaskanmu untuk melihat-lihat keadaan negeri kita. Berangkatlah besok. Ini sekantong uang emas sebagai bekalmu.” Pangeran Sulung pun berangkat keesokannya. Dia menaiki kuda kesayangannya. Saat melewati pinggir hutan, Pangeran Sulung melihat seekor rusa yang terjebak dalam sebuah perangkap. Pangeran Sulung merasa kasihan. Dibebaskannya rusa itu. 

Dongeng Anak: Dua Putra Raja

Seorang lelaki tua lalu muncul. “Anak muda,” ucapnya, “kau sungguh telah melakukan kesalahan besar dengan melepas rusa itu. Binatang itu punyaku. Telah berhari-hari aku memburunya. Kau telah membuatku rugi. Kau harus menggantinya. Jika tidak bersedia, terpaksa aku akan melaporkanmu kepada Raja.” Pangeran Sulung tak ingin persoalan itu dibawa ke hadapan Raja. Maka dia pun berkata, “Ini sekantong uang emas untuk mengganti kerugian itu.” Si Lelaki Tua mengambilnya, lalu pergi. Dengan lesu Pangeran Sulung meneruskan perjalanan. Belum juga jauh, seorang lelaki brewok tiba-tiba menghadangnya. “Berhentilah kau, Anak Muda. Akhirnya kau kutemukan juga,” katanya. “Cepat kembalikan kuda yang kau curi itu. Jika tidak, aku akan melaporkanmu kepada Raja.” Pangeran Sulung ketakutan. 

Maka diberikannyalah kudanya pada si Brewok. Si Brewok segera meninggalkan tempat itu. Pangeran Sulung amat bingung. Kini dia tak punya uang. Begitu pula dengan kuda tunggangannya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali saja. Raja Tua Kroda yang kemudian mendengar ceritanya tak berkomentar apa-apa. Raja Tua Kroda kemudian memanggil Pangeran Bungsu. Lalu katanya, “Anakku, kini aku menugaskanmu untuk melihat-lihat keadaan negeri kita. Berangkatlah besok. Dan ini, sekantong uang emas sebagai bekalmu.” Keesokannya, dengan menaiki kudanya, Pangeran Bungsu berangkat. Saat melewati pinggir hutan, matanya melihat seekor rusa yang kena perangkap. Pangeran Bungsu merasa kasihan. Dibebaskannya rusa itu. Seorang lelaki tua lalu muncul dan berkata, “Anak muda, kau telah melakukan kesalahan yang amat besar dengan melepas rusa itu. Rusa itu punyaku. Telah berhari hari aku memburunya. Kau telah membuatku rugi. Kau harus menggantinya. Jika tidak, terpaksa aku akan melaporkanmu kepada Raja.” “Hahaha!” Pangeran Bungsu tertawa. “Akhirnya ketahuan juga,” katanya. “Ternyata Bapaklah orang yang selama ini menangkapi rusa-rusa di hutan ini. Bapak telah melawan peraturan Raja, yang melarang berburu rusa di sini. Sekarang Bapak akan saya bawa ke depan Raja.” Lelaki tua itu ketakutan. 

Dia tidak ingin dibawa ke hadapan raja. Katanya, “Anak muda, ambillah kantong berisi uang emas ini. Setelah itu, bebaskanlah aku. Jangan kau menghadapkanku kepada Raja.” Pangeran Bungsu menerimanya. Lalu diteruskannya perjalanan. Belum begitu jauh, seorang lelaki brewok tiba-tiba menghadangnya. Seru orang itu, “Akhirnya kutemukan juga kau, pencuri kuda! Kembalikan kuda itu! Atau kau ingin aku melaporkanmu kepada Raja?” Pangeran Bungsu tak takut. Tersenyum dia berkata, “Rupanya Bapak pemilik kuda ini. Sudah lama saya mencari. Bukan untuk mengembalikan kuda ini, tetapi untuk melaporkan Bapak kepada Raja atas perlakuan kejam Bapak terhadap kuda ini. Kuda ini datang kepada saya dan menceritakan kekejaman Bapak padanya. Tenaganya diperas, diberi pekerjaan-pekerjaan yang berat, tetapi tak pernah diberi cukup makan. Tubuhnya yang kian kurus, lemah, serta tidak terurus tak diperhatikan. Bapak amat jahat. Ayo, ikut ke istana!” Si Brewok amat takut. Dengan tubuh gemetar dia berkata, “Anak muda, jangan bawa aku ke hadapan Raja. Ini sekantong uang emas untukmu.” Pangeran Bungsu mengambilnya. Lalu dia melanjutkan perjalanan. Setelah puas melihat-lihat keadaan negerinya, Pangeran Bungsu cepat kembali ke istana. Diceritakannya semua yang telah dialaminya pada ayahnya. Raja Tua Kroda tampak senang. Dia lalu mengatakan bahwa si Lelaki Tua dan si Brewok adalah orang-orang suruhannya. Setelah itu dia memutuskan: Pangeran Bungsu lah penggantinya. Dan keputusan itu memang tepat. Di bawah pemerintahan Pangeran Bungsu yang pintar dan cerdik, Kerajaan Kroda kemudian menjadi negeri yang besar, makmur, dan disegani.

Dongeng Anak: Dua Putra Raja

Thursday, November 3, 2011

Dongeng Anak: Burung Itu Bersarang di Topi Kakek dan Burung Gagak dan Burung Merak

Dongeng Anak: Burung Itu Bersarang di Topi Kakek

Sekolah sedang libur panjang. Andi berlibur di rumah Kakek di desa. Sudah tiga hari dia di situ. Penuh suka cita dia membantu Kakek bekerja di kebun. Memakai topi pandan tuanya, Kakek giat berkebun. Kata Nenek, topi itu seharusnya dibuang saja. Habis sudah jelek sekali. Banyak bolong-bolong di sana-sini. “Tidak. Topi ini masih enak dipakai. Aku sangat menyukainya,” kata Kakek menolak ucapan Nenek. Matahari beranjak tinggi. Sinarnya mulai terasa menyengat panas. Kakek berhenti mencangkul. Dia mendatangi pohon mangga di tepi kebun. Dilepasnya topi. Diletakkannya di satu cabang pohon itu. Kakek lalu duduk bersandar di batang pohon itu melepas lelah. Setelah lelahnya lenyap, dia kembali mencangkul. “Hei, berhentilah! Ayo, makan dulu!” Nenek memanggil dari rumah. Kakek dan Andi cepat datang. Keduanya lalu lahap menikmati hidangan. Seusai itu Kakek ingat akan topinya.

Dongeng Anak: Burung Itu Bersarang di Topi Kakek

Disuruhnya Andi mengambil topi itu. Andi melakukan. Tak lama dia telah kembali. “Kakek, Kakek, wah, topi Kakek telah penuh dengan rumput kering!” katanya. Bersama Andi, Kakek cepat mendatangi pohon mangga di mana dia meletakkan topi itu. Setibanya di sana, mereka menemukan seekor burung murai tengah membuat sarang di topi itu. “Sssst!” ucap Kakek. “Yuk, kita pergi dari sini! Biarkan saja burung itu bersarang di situ.” Beberapa hari kemudian Kakek, Nenek, dan Andi melihat topi itu. Di dalamnya sudah ada lima butir telur. “Hihihi!” Nenek tertawa. “Topi itu memang cocok untuk sarang burung!” “Ya, ya, Nenek benar!” timpal Andi. “Huh!” dengus Kakek. “Hihihi!” “Hahaha!” Nenek dan Andi terpingkal-pingkal. Kakek tersenyum kecut.

Dongeng Anak: Burung Gagak dan Burung Merak

Dulu, setelah dunia selesai diciptakan, burung gagak dan burung merak adalah dua sahabat yang rukun. Ketika itu warna bulu gagak tidak hitam seperti sekarang dan warna bulu merak tidaklah seindah kini. Meskipun kedua burung itu bersahabat, mereka memiliki tabiat yang sangat berbeda. Merak selalu kelihatan rapi, sedangkan Gagak tampak begitu jorok. Gagak amat jarang membersihkan tubuhnya dan makanannya pun apa saja. Merak rajin sekali membersihkan tubuhnya setiap hari dan hanya makan buah serta sayur yang segar-segar. Merak selalu menjaga kebersihan sarangnya, tetapi Gagak tak peduli dengan sarangnya yang penuh dengan sampah. Suatu hari, Gagak dan Merak bercakap-cakap di tepi sungai. “Sungguh membanggakan bila bulu yang kita miliki warnanya indah,” kata Merak. “Tidakkah kau bosan dengan warna bulumu yang hanya putih itu?” “Ya, sungguh membosankan,” sahut Gagak. “Bagaimana kalau kita mencari bahan pewarna? Mula-mula aku mengecat bulu-bulumu, kemudian kau mengecatku. Bagaimana?” Merak setuju. Setelah berhasil mengumpulkan bahan pewarna, mulailah Gagak mengecat bulu-bulu Merak.

Dongeng Anak: Burung Gagak dan Burung Merak

Merak yang selalu tampak rapi memberitahukan warna apa saja yang harus digunakan. Gagak mengecat Merak dengan warna-warna yang sangat indah. “Sekarang giliranku mewarnaimu,” kata Merak. Maka, mulailah ia mengecat Gagak. Gagak merasa perutnya lapar. Dan ketika melihat bangkai seekor tikus terapung di sungai, ia tidak mau berlama-lama. “Gunakan saja satu warna!” suruhnya. “Aku tak mau kehilangan makananku.” “Sabar, Teman,” timpal Merak. “Bukankah kau menginginkan warna bulumu indah?” “Aku tak peduli!” sahut Gagak. “Aku tak mau kelaparan! Warnai saja buluku dengan warna hitam!” Merak melakukannya. Setelah selesai, Gagak melesat terbang untuk menyantap bangkai tikus. Sejak saat itu, bulu burung merak berwarna indah dan bulu burung gagak berwarna hitam.

Saturday, October 29, 2011

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim dan Amin Yang Baik Hati

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim

Buli adalah seekor anjing. Ia tinggal di peternakan keluarga Doni. Tubuhnya kecil. Bulunya berwarna cokelat. Ayah Doni telah mengajarinya beberapa hal. Dia mengajarinya bagaimana mengambil suatu benda. Dia juga mengajarinya bagaimana membawa benda. “Ia anjing yang pandai. Ia dapat membawa sebutir telur dengan mulutnya tanpa pecah,” ucap ayah Doni bangga. Suatu hari Doni mendengar suara keras. Dia melihat ke luar jendela. Di depan sana tampak sebuah truk menuju peternakan. Rem truk itu blong dan Pak Sopir tak dapat menghentikannya. “Cepat buka pintu peternakan!” teriak Pak Sopir. Truk terus melaju. Dua pekerja peternakan cepat-cepat membuka pintu. Truk memasuki peternakan.

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim

Beruntung saat itu semua ternak berada di kandang. Namun, tiba-tiba seekor induk ayam dan anak-anaknya melintasi jalan yang akan dilalui truk. “Hush, hush!” seru ayah Doni menghalau ayam-ayam itu. Seorang pekerja melempar batu ke arah ayam-ayam itu. Induk ayam cepat membawa anakanaknya menyingkir dari jalan itu. Oh, ternyata tak semua anak ayam mengikuti induknya. Seekor anak ayam tertinggal di tengah jalan. Ia menciap-ciap dengan keras. Sementara itu truk terus melaju. Kalau tidak cepat menyingkir, anak ayam itu bisa terlindas truk.Doni, ayahnya, dan semua yang ada di peternakan itu hanya bisa terdiam melihatnya.

Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan anak ayam itu. Tiba-tiba, siuuut! Dengan gerakan sangat cepat, Buli melesat ke arah anak ayam itu. Cepat digigitnya anak itu, lalu, siuuut … Buli cepat menyingkir dari jalan itu. Anak ayam itu selamat. Truk terus melaju menuju bukit kecil di ujung jalan dan akhirnya berhenti karena tak kuat menanjak. “Kau anjing yang pandai!” ucap ayah Doni pada Buli amat bangga. “Kau juga pemberani!” “Guk, guk, guk!”

Dongeng Anak:Amin Yang Baik Hati

Amin berjalan-jalan tidak jauh dari rumahnya. Dia memerhatikan burung, bunga, dan pepohonan. Dia terus berjalan hingga masuk ke dalam hutan. Tidak berapa lama hari pun gelap. Amin bermaksud pulang. Dia mencari jalan menuju rumahnya. Namun, dia tidak dapat mengingat jalan pulang. Amin tersesat. Karena sangat letih, dia duduk di bawah sebuah pohon yang besar. “Barangkali, jika aku beristirahat sebentar, aku akan dapat mengingat jalan pulang,” pikirnya. Segera ia tertidur lelap. “Tolong! Tolong!” terdengar teriakan. Amin terbangun dan memerhatikan sekelilingnya. Siapa yang berteriak? Dia melihat seekor ular yang besar.

Dongeng Anak:Amin Yang Baik Hati

Ular itu bergerak perlahan menaiki pohon. Ia akan memangsa anak-anak burung yang berada di sarang di sebatang cabang yang tinggi pohon itu. Anak-anak burung itu masih sangat kecil dan belum bisa terbang. Mereka mengepak-ngepakkan sayap dan berteriak. Si ular jahat terus bergerak. Amin memerhatikan dengan cemas ketika ular itu membuka lebar mulutnya. Dia mengambil sebatang ranting, memanjat pohon, dan memukul si ular. Szzzz! Szzzz! Ular itu menyerang Amin dengan ganas sekali. Berkali-kali Amin memukulnya. Dan terjadilah perkelahian yang seru. Si ular sangat panjang dan kuat sedangkan Amin yang masih muda, kuat dan sangatlah berani. Ular itu kewalahan dan akhirnya melarikan diri. Anak-anak burung mencicit gembira. Amin telah menyelamatkan mereka. Amin telah menjadi pahlawan mereka! Karena amat letih, Amin berbaring di tanah dan kembali tertidur dengan lelapnya. Tiba-tiba angin bertiup sangat keras. Pohon-pohon bergoyang. Semua binatang ketakutan dan lari bersembunyi. “Awas, si burung raksasa! Ia telah kembali!” teriak mereka. “Bersembunyilah!

Ayo, segeralah bersembunyi!” Para binatang itu pun bersembunyi di sarang mereka sambil berjaga-jaga. Anak-anak burung berseru gembira menyambut kedatangan induknya. Ketika hampir mendarat, si burung raksasa tiba-tiba melihat Amin yang tertidur lelap di bawah pohon. “Manusia!” pekiknya. “Aku akan mencabik-cabiknya hingga hancur dengan cakarku yang tajam!” Anak-anaknya berteriak, “Ibu, jangan melukainya! Dia teman kami! Dia telah mengusir si ular jahat dan menyelamatkan hidup kami!”

Si burung raksasa memerhatikan Amin. Amin terbangun dari tidurnya. Dia menggeliat. Ketika melihat si burung raksasa, dia amat kaget. Belum pernah Amin melihat burung seperti itu. Sayapnya yang lebar menutupi sebagian permukaan tanah tempat dia berbaring. Namun, dia tidak merasa takut. Amin pun menyapanya. Si burung raksasa mengangguk. “Kau lapar?” ia bertanya kepada Amin sambil menyodorkan buah-buahan yang ada dalam genggaman cakarnya. Amin mengangguk. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk menerima buah-buahan yang disodorkan si burung raksasa. “Kami juga lapar, Bu!” seru anak-anaknya tak sabar. Segera si burung raksasa memberi mereka makan. Amin mengucapkan terima kasih.

Karena masih mengantuk, Amin pun tidur kembali. Sepanjang malam si burung raksasa menjaganya. Ia membentangkan sayapnya lebarlebar untuk melindungi Amin dari dingin malam yang amat menusuk. Keesokan paginya, ketika Amin bangun dia menemukan dirinya ditutupi sayap yang sangat besar. Amin merasa ngeri. “Jangan takut. Aku menutupimu agar tidak kedinginan,” jelas si burung raksasa. “Karena kau telah menyelamatkan anak-anakku, kini aku akan melakukan apa pun yang kauminta.” Amin mengucapkan terima kasih. Amin lalu menceritakan kisahnya dan minta diantarkan pulang. “Baiklah. Tapi, makanlah dulu.” “Kami juga lapar, Bu,” teriak anak-anaknya. Selesai makan, si burung raksasa mengantarkan Amin pulang. Sebelum berangkat ia berpesan, “Berpeganglah kuat-kuat pada tubuhku! Jangan dilepas! Hari ini angin berembus sangat kencang.”

Amin lalu naik ke punggung si burung raksasa. Anak-anak burung berteriak mengucapkan selamat jalan dan meminta Amin datang kembali di lain hari. Si burung raksasa segera mengangkasa membawa Amin. Tidak berapa lama Amin melihat rumahnya. “Itu rumahku!” serunya sangat gembira. Perlahan-lahan si burung raksasa mendarat, menurunkan Amin. Sebelum pergi, sekali lagi ia mengucapkan terima kasih dan tidak akan melupakan kebaikan Amin.

Dongeng Anak: Anjing Itu Menyelamatkan Si Anak Yatim dan Amin Yang Baik Hati

Wednesday, October 12, 2011

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio dan Buaya Sama Burung Penyanyi

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio

Pak Rio menatap buah semangkanya dengan sedih. Kemarin, buah itu sangat segar dan besar. Tapi kini? Oh, buah itu mengerut layu dan membusuk! Pak Rio duduk termangu memikirkan hal itu. Air matanya menetes. “Oh, berhentilah menangis! Air matamu membuat aku basah kuyup!” satu suara terdengar marah. Pak Rio melihat ke bawah. Dia menemukan seekor tikus kebun sedang memeras pakaiannya. “Oh, maaf,” seru Pak Rio. “Aku sangat sedih. Tadinya aku berharap tahun ini aku bisa menang di lomba buah semangka terbaik. Tapi… kejadian seperti tahun-tahun lalu terjadi lagi. Buah semangkaku yang besar dan cantik tiba-tiba saja membusuk sebelum aku mengikuti lomba itu. Pak Kuro, tetangga sebelah rumahku, pasti akan memenangkan lomba itu, seperti tahun-tahun lalu. Buah semangkanya tak pernah mengalami hal buruk seperti yang selalu aku alami.” “Aku tahu mengapa kau tidak pernah bisa memenangkan lomba itu,” kata si Tikus Kebun. “Suatu malam aku keluar dari liangku. Aku melihat Pak Kuro menusukkan sebatang kayu seperti jarum ke semangkamu. Itu sebabnya buah semangkamu membusuk.

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio

Tapi tak usah sedih. Aku akan membantumu. Aku punya teman yang bisa menolongmu. Apa kau masih punya buah semangka?” “Ada. Tapi kecil.” Pak Rio menunjukkan buah semangkanya yang hampir sebesar ketimun. “Kau pasti akan memenangkan lomba itu,” kata si Tikus kebun. Ia kemudian bergegas menuju gua di tengah hutan, menemui kawannya, si Pengatur Cuaca. Tikus Kebun menceritakan kesusahan yang dialami Pak Kuro. “Tenanglah,” kata si Pengatur Cuaca. “Itu mudah. Aku akan membuat matahari bersinar terik selama tiga hari sebelum lomba itu diadakan. Buah semangka Pak Rio akan tumbuh besar, melebihi buah semangka sebelumnya. Namun, buah semangka Pak Kuro akan menjadi sangat masak dan membusuk.” Si Tikus Kebun merasa senang. Dan seperti janji si Pengatur Cuaca, matahari pun bersinar lebih terik dari biasanya. Buah semangka Pak Rio tumbuh lebih besar dari buah-buah semangka sebelumnya. Pak Rio sangat senang. Sementara di kebun sebelah, terdengar suara marah-marah Pak Kuro sebab semangkanya membusuk. Saat lomba, olala, tentu saja buah semangka Pak Rio menjadi pemenang. Buah itu sangat besar. Belum pernah ada semangka sebesar itu selama ini. Semua orang sangat kagum. Sementara itu, Pak Kuro merasa malu sekali. Pak Rio mengucapkan terima kasih pada Tikus Kebun. Dia memintanya tinggal di kebunnya dan memberinya makan setiap hari.


Dongeng Anak: Buaya dan Burung Penyanyi

Buaya dan Burung Penyanyi bersahabat akrab. Hari ini mereka asyik bercakap. Burung Penyanyi bertengger di hidung Buaya. Namun, beberapa saat kemudian, Buaya merasa mengantuk. Ia mengusap dan membuka mulutnya lebar. Oh, Burung Penyanyi yang bertengger di hidung Buaya terpeleset masuk ke dalam mulut Buaya. Sayangnya, Buaya tidak tahu. Ia bingung mencari Burung Penyanyi yang kini tak ada lagi di hidungnya. “Aneh! Ke mana Burung Penyanyi?” gumam Buaya. “Ia pasti sedang mengajakku bercanda.” Buaya melihat ke belakang, ke ekornya. Namun, burung itu tidak ada. Buaya lalu mencari Burung Penyanyi di semak-semak. Ia memasukkan moncongnya ke semak-semak di tepi sungai. Namun, Burung Penyanyi tetap tidak ditemukannya. “Ke mana ia?” gumam Buaya kembali. Buaya akhirnya memejamkan mata untuk tidur. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar senandung merdu yang keluar dari dalam dirinya. “Oh!” serunya heran. Matanya terbuka lebar. “Selama hidup, baru kali ini aku dapat bernyanyi. Wow, aku akan mengajak Burung Penyanyi sahabatku untuk bernyanyi bersama. Pasti akan sangat menyenangkan!” Buaya kemudian asyik mendengarkan senandung yang keluar dari dalam dirinya. Setelah beberapa lama ia merasa lelah.
Ia lalu membuka mulutnya dan menguap lebar-lebar. Ketika akan menutup matanya, ia melihat satu makhluk bertengger di hidungnya. Makhluk itu kelihatan sangat marah. Ia si Burung Penyanyi. “Kau jahat!” omel burung itu. “Mengapa kau tidak memberi tahu kalau ingin membuka mulut? Aku terjatuh ke dalam mulutmu, tahu? Menyebalkan!” Buaya mengernyitkan dahi. “Jadi,” katanya, “senandung yang terdengar dari dalam diriku itu suara senandungmu? Bukan senandungku?” “Ya!” jawab Burung Penyanyi. Ekornya digoyang-goyangkan. “Kau kan tahu, kau tidak bisa bernyanyi sama sekali! Suaramu sangat sumbang! Tak enak didengar!” Buaya sangat sedih mendengar perkataan itu. Air matanya menetes. “Aku pikir senandung itu suaraku,” katanya pilu. “Kau tahu, aku ingin sekali bisa bernyanyi. Tadi kupikir aku sudah bisa menyanyi. Ternyata? Oh, betapa malangnya aku yang bersuara buruk!” Burung Penyanyi merasa iba. Ia segera mencari cara untuk menghibur sahabatnya itu. “Teman, bagaimana kalau kau membuat gelembung gelembung air dan aku bersenandung? Kita lakukan secara bersamaan. Suara yang terdengar pasti sangat enak didengar.” Buaya setuju. Ia lalu memasukkan moncongnya ke dalam air dan membuat gelembung-gelembung. Burung Penyanyi bernyanyi. Suara nyanyiannya sangat pas dengan suara gelembung-gelembung air yang dibuat Buaya. Buaya senang sekali. Sejak itu mereka berdua selalu melakukan hal itu setiap hari. Agar Burung Penyanyi tidak masuk lagi ke dalam mulutnya, Buaya selalu memberi tahu dulu sebelum membuka mulutnya. Wow, mereka rukun, ya!

Dongeng Anak: Buah Semangka Pak Rio dan Buaya Sama Burung Penyanyi

Friday, September 2, 2011

Dongeng Anak: Burung Kecil di Depan Jendela dan Cerita yang Tak Sampai Pada Raja

Dongeng Anak: Burung Kecil di Depan Jendela

Kulihat seekor burung kecil di depan jendela kamarku. Burung itu melompat-lompat penuh riang. Kudekati jendela untuk mengatakan ‘apa kabar?’ pada burung itu. Tapi, werrr! Burung itu terbang menjauh. Aku memerhatikan penuh kecewa.

Dongeng Anak: Burung Kecil di Depan Jendela

Dongeng Anak: Cerita yang Tak Sampai Pada Raja

Pagi baru saja muncul. Sinar mentari yang hangat menyinari bumi. Seekor anak itik berjalan tergesa-gesa di sebuah jalan setapak menuju pasar. Ia diperintah ibunya untuk berberlanja. Anak itik itu belum punya banyak pengalaman. Sebuah melinjo tiba-tiba jatuh dan menimpa kepalanya. “Aduh!” seru Anak Itik itu. “Langit runtuh, dan menimpa kepalaku!” Anak itik itu ketakutan. “Aku harus melaporkan hal ini kepada Raja!” Anak itik itu mempercepat langkahnya. Belum jauh ia bersua dengan seekor ayam betina yang hendak bertelur. “Bu Ayam, Bu Ayam!” kata Anak Itik. “Langit runtuh! Mari kita laporkan kepada Raja!” “Langit runtuh?!” tukas Ayam Betina. “Ya!” jawab Anak Itik. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku!” “Jika begitu, mari kita laporkan kepada Raja,” kata Ayam Betina. Anak Itik dan Ayam Betina melangkah beriringan. Anak Itik di depan. Ayam Betina di belakang. Keduanya bertemu dengan seekor itik betina. “Bu Itik, langit runtuh!” Ayam Betina memberi tahu. “Ya!” timpal Anak Itik. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! 

Dongeng Anak Cerita yang Tak Sampai Pada Raja

Kita harus cepat melaporkan hal ini kepada Raja!” “Aku ikut,” ucap Itik Betina. Anak Itik, Ayam Betina, dan Itik Betina melangkah bersama. Tak lama, mereka bertemu seekor ayam jantan yang tengah mengais tanah mencari makanan. “Pak Ayam, langit runtuh!” seru Itik Betina pada ayam itu. “Ya!” kata Ayam Betina. “Benar sekali, Pak Ayam!” Anak Itik menambahkan. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! Kita harus cepat melaporkannya kepada Raja!” “Aku ikut,” kata Ayam Jantan. Anak Itik, Ayam Betina, Itik Betina, dan Ayam Jantan berjalan beriringan. Belum terlalu jauh keempatnya bersua dengan seekor itik jantan. “Langit runtuh, Pak Itik!” Ayam Jantan memberi tahu. “Betul,” kata Itik Betina. “Bu Ayam yang mengatakan padaku.” “Ya,” sahut Bu Ayam. “Aku diberi tahu anak itik ini. Langit runtuh dan menimpa kepalanya!” “Begitulah, Pak Itik,” Anak Itik menimpali. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! Saat ini kami tengah menuju istana untuk melaporkan kejadian ini kepada Raja. Kau mau ikut?” “Tentu,” sahut Itik Jantan. “Langit runtuh. Dunia pasti akan kiamat. Kabar ini h a r u s secepatnya sampai pada Raja!” Keenamnya segera melangkah beriringan. Mereka bertemu dengan seekor angsa jantan. “Langit runtuh, Pak Angsa!” seru Itik Jantan. “Kami sedang menuju istana untuk memberi laporan pada Raja!” “Langit runtuh!” tukas Angsa Jantan. “Kata siapa?” “Kata Ayam Jantan,” jawab Itik Jantan. Ayam Jantan lalu memberi tahu kalau ia pun diberi tahu Itik Betina. Itik Betina lalu menunjuk Ayam Betina, dan Ayam Betina menunjuk Anak Itik. “Sungguh!” kata Anak Itik. “Langit runtuh dan menimpa kepalaku! Kami kini tengah menuju istana. 

Raja harus segera tahu!” Angsa Jantan pun lalu ikut menuju istana. Binatang-binatang itu lalu bertemu seekor angsa betina. “Bu Angsa, langit runtuh!” Angsa Jantan memberi tahu. “Kami sedang dalam perjalanan menuju istana untuk melaporkan hal ini kepada Raja. Raja harus segera tahu!” “Aku ikut,” cetus Angsa Betina. Binatang-binatang itu melangkah beriringan. Tiba-tiba satu suara menyapa, “Selamat pagi, Kawan semua!” Binatang-binatang itu sangat terkejut. Mereka mendapati di depan mereka berdiri seekor serigala yang sangat buas. “Aku sangat lapar,” serigala itu berkata. “Sudah seminggu aku tidak memakan daging segar. Kalian akan kumakan satu per satu.” Serigala itu menjulurkan lidahnya. “Jangan!” seru Angsa Betina. “Langit runtuh. Dunia akan kiamat! Kami sedang menuju istana untuk menyampaikan hal ini pada Raja!” “Aku yang akan menyampaikan,” kata Serigala. Lalu dimakannya Angsa Betina. Dimakannya Angsa Jantan, Itik Jantan, Ayam Jantan, Itik Betina, Ayam Betina, dan terakhir Anak Itik. “Binatang-binatang bodoh!” seru Serigala gembira. “Semua mengantarkan diri untuk jadi santapanku! Dasar bodoh! Hahaha! Langit tak pernah runtuh!” Serigala itu melangkah gontai. Ia sangat kenyang. Tak disadarinya bahaya yang sedang mengintainya. Seorang pemburu membidikkan senapannya ke arahnya. Dor! Serigala itu terkulai. Si Pemburu sangat senang. Kini tiada lagi yang membahayakan ternak penduduk. Serigala jahat itu telah mati. Begitulah. Akhirnya, cerita langit runtuh tak pernah sampai pada Raja. D a n , langit memang tidak pernah runtuh.